| Selasa, 30 Juni 2009 |
| bego |
Akhir-akhir ini gw sering banget dikatain bego. “Mas kamu tuh bego banget sih, masa cuci muka pake pepsodent?” Kata nyokap gw waktu ngeliat muka gw belepotan odol. “Huhhh.. kamu tuh gimana sih, bego banget, dasar-dasar teorinya aja kamu gak tau, tapi nekat majuin topik ini” Kata PS gw dengan penuh semangat 45’ dan gw yang tertunduk lesu, pasrah klo tiba-tiba dilempar bambu runcing ama PS gw. *Lah, lo kira gw belanda apa??* “Kang, sampeyan bego banget sih, gak maju-maju, wong udah deket ky gitu loh, ntar disamber orang baru tau sampeyan” Kata temen gw yang lagi ngajarin nyopet yang bener di bus kota. Ahahaha. Ya kaga lah. Well, eniwei, bego itu sebenernya apa sih? Kalo dilihat dari pengertian kamus besar bahasa Indonesia bego adalah be•go /bégo/ a cak sangat bodoh; tolol: ia selalu berlagak -- , pura-pura tidak mengerti Bego itu lawan katanya pinter. Pinter dalam pengertian kamus bahasa Indonesia adalah pin•tar a 1 pandai; cakap: ia termasuk anak yg -- di kelasnya; 2 cerdik; banyak akal: rupanya pencuri itu lebih -- dp polisi; 3 mahir (melakukan atau mengerjakan sesuatu): mereka sudah -- membuat baju sendiri; ter•pin•tar a paling pintar (cakap, cerdik, mahir); ke•pin•tar•an n 1 kepandaian; kecakapan: kelincahan dan ~ nya boleh diuji; 2 kecerdikan; 3 kemahiran: ~ nya membuat mainan anak-anak sudah terlihat sejak ia berumur lima belas tahun Nah sekarang, yang menjadi masalah adalah apa sih tanggapan orang pintar terhadap orang bego?, menurut orang pintar, apa sih yang bisa membuat seseorang dikategorikan sebagai orang bego? Survey ini dilakukan kepada 100 orang pintar yang kebanyakan berasal dari keluarga besar Prof.Dr.Ing. BJ Habibie. Peneliti beranggapan bahwa BJ Habibie yang sempat memegang jabatan lama sebagai Menristek RI merupakan orang yang jenius. Jenius KW1.Kalaupun berniat disejajarkan, mungkin sekelas Einstein ,Archimedes, dan Ponari, Meskipun karir di politiknya tidak begitu cemerlang bila dibandingkan dengan otak yang dimilikinya. Oke, back to main topic, sebagian besar jawaban orang pintar yang dirangkum dari penelitian ini adalah orang bego itu orang yang Salah masukin rumus fisika waktu bikin pesawat terbang (jawaban dari cucunya habibie yang ke-23, hah emang ada apa?), orang yang rencanany mau bikin pesawat terbang malah jadi pesawat telepon. orang yang bingung mo bikin pesawat terbang apa pesawat televisi, orang yang punya cita2 buat pacaran ama marlin Monroe. Orang yang lupa pake celana dalem waktu pake celana panjang. Orang yang kebalik make celana panjang dulu baru celana dalam, Orang yang cuci muka pake odol, orang yang sikat gigi pake sabun colek, (kalo yg ini cenderung idiot kayanya), orang yang boker di kebon trus cebok pake daun kelor. Well ,sekarang kira2 apa sih tanggapan orang bego terhadap orang bego itu sendiri? Orang bego menurut versi orang bego itu sendiri adalah orang yang selalu kerja keras mencari duit dan karier tapi melupakan kehidupan sosialnya, orang yang selalu membuang peluang yang telah diterimanya, orang yang gak berani jatuh cinta, orang yang gak berani mengungkapkan cintanya, orang yang gak berani sakit hati, orang yang gak berani patah hati, orang yang gak berani bangun dari keterpurukannya, orang yang gak berani ngambil keputusan besar, orang yang pengen buat menjadi orang yang luar biasa tapi gak berusaha memberikan effort yang maksimal, seseorang yang memberanikan diri naik kursi capres tapi tidak bisa berdebat, orang yang selalu memberikan penilaian kepada orang lain dari fisik dan keadaan finansialnya. Nah klo udah begitu, sebenarnya siapa sih yang bego? Gw, elo, kita, atau mereka? Well, that’s all folks.. |
posted by Isnanu Purwoko @ 11.22  |
|
|
|
| Senin, 08 Juni 2009 |
| Kangen Nenek |
"Mas, tetangga kita ada yang kena deman berdarah. Kayaknya besok sore bakalan ada pengasapan lagi nih" Ibuku memberitahuku tentang berita yang baru saja didapat sesudah Ia berbincang-bincang dengan tetangga. Akhir-akhir ini memang lagi marak-maraknya deman berdarah. Belum lama ini, aku baru saja menjenguk seorang temanku yang diopnam di RS Siloam karena demam berdarah.
Malam itu, penyakit insomniaku tiba-tiba saja kambuh. Jam sudah menunjukan pukul satu dini hari tetapi mataku belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Tiba-tiba saja perutku terasa lapar. Aku berniat memasak mi instan didapur rumahku. Saat berjalan menuruni tangga, aku melihat sosok nenekku yang masih terjaga di kursi. Nenekku memang terkadang tidak bisa membedakan pagi dan malam, maklumlah usianya sudah sangat lanjut, sudah 79 tahun. Aku bertanya kepada nenekku "Ai, belum tidur?, belum mengantuk?" Beliau tidak menjawab, pendengarannya memang sudah mengalami gangguan sejak lama, beliau hanya melontarkan jawabannya dengan senyuman. Senyuman terakhir yang dia berikan padaku dimalam itu. Kulanjutkan saja niatku untuk membuat semangkuk mi instan, sedang asyik-asyiknya masak, nenekku tiba-tiba memanggilku, Beliau meminta untuk diantarkan ke tempat tidurnya. Kumatikan komporku untuk sementara, dan segara kudorong kursi rodanya menuju ke kamar tidurnya. Sayup-sayup terdengar beliau berkata "Trimakasih ya Mas, rukun-rukun yah sama Ami". Kuanggukan saja kepalaku dengan cepat, dan kututup pintu kamarnya. Ingin segera kulanjutkan rencanaku memasak, maklum perutku sedang lapar-laparnya waktu itu.
Benar saja, keesokan harinya pengasapan pun dilakukan. Karena Ibuku berpikir kalau Nenekku tidak akan tahan dengan asap putih yang tebal yang akan disemprotkan kesegenap penjuru ruangan rumah, maka Ia berniat membawa Nenekku untuk berjalan-jalan dengan mobil mengelilingi kompleks sembari menunggu rumahku selesai diasapi. Sepulangnya dari jalan-jalan, Nenekku mengeluh, punggungnya terasa sakit, dibawanya beliau ke kamarnya yang baru saja selesai diasapi. Asapnya memang sudah menipis, tetapi tetap saja baunya masih menusuk-nusuk hidungku. Benar saja dugaanku, nenekku kelihatannya tidak tahan terhadap asap tersebut. Beliau kelihatan sulit bernafas, sesak nafas, Kakekku nampaknya sudah mempunyai firasat ini sejak awal, beliau bergegas memanggil anggota lingkungan untuk berdoa bersama, bapakku bergegas memanggil dokter, dan aku ditugaskan untuk memanggil Romo untuk sakramen pengurapan orang sakit.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Hingga tak kusadari, aku baru saja menyaksikan Nenekku menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya di tempat tidur itu.
Kembali kuteringat masa-masa kecilku bersama beliau, saat aku seringkali diajaknya kepasar dan biasanya aku selalu merengek-rengek minta dibelikan mainan dan viola, mainan tersebut langsung ada. Saat aku malas pergi ke sekolah, beliau sendirilah yang akan mengantarku sampai kesekolah. Saat aku malas makan, beliaulah yang dengan sabar menyuapiku sendok demi sendok sampai makananku habis. Teringat kembali akan dimanjakanny aku pada saat itu. Merasakan bagaimana rasanya menjadi cucu kesayangan Beliau yang sangat membahagiakan.
Beliau pulalah yang selalu berpesan kepadaku untuk rajin kegereja. Tak segan pula beliau membentak dan memarahiku apabila aku sedang malas atau bolos dari gereja. Beliau pula yang mengajarkan padaku untuk selalu berdoa novena tiga kali salam maria apabila menjumpai tantangan sulit dalam hidup. "Mohon ketenanganlah pada-Nya, niscaya apabila permohonanmu sesuai dengan kehendak Allah, permohonanmu akan terkabulkan" ujar Beliau kepadaku. Beliau adalah sosok Nenek yang akan terus hidup didalam hatiku.
Tak terasa pipiku telah basah, terakhir kali aku menangis karena percintaanku kandas. tapi kali ini aku merasakan sesuatu yang beda didalam tangisanku. Tangisan kehilangan. Tangisan Kerinduan. Tembang lawas Boys Don't cry yang sering dilantunkan oleh The Cure, grup band legendaris kesayanganku kuabaikan lagi entah untuk kesekian kalinya.
Kuhapus keinginanku agar Nenekku dapat melihatku memakai toga, menggenggam bulatan tempat ijazah dan berfoto bareng dengan beliau. Kuhapus keinginanku agar pada suatu hari nanti aku dapat mengenalkan gadis yang sangat kucintai padanya. Namun, kenangan bersamamu tak akan pernah kuhapus dalam memori otakku.
"Tok..tok..tok.." Ketukan lembut pada pintu kamarku membuyarkan lamunanku seketika itu juga. Segera saja kuseka air mataku, kututup rapat buku jurnalku, dan secepat kilat kubuka pintu kamarku. Ibuku yang baru saja pulang dari kantor, masih mengenakan stelan blazer kerjanya yang terlihat masih rapih walaupun sudah digunakannya seharian telah berdiri didepan pintu kamarku. "Mas, besok malam jangan kemana-mana ya. Jemput pastor buat 100 harinya Ai" Kuanggukan kepalaku dengan mantap tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tak terasa, sudah hampir 100 hari aku ditinggalkannya.
Ai : Eyang Putri, merupakan panggilan kesayangan aku dan keluargaku untuk Nenek. |
posted by Isnanu Purwoko @ 03.34  |
|
|
|
| Sabtu, 06 Juni 2009 |
| Hamster |
|
posted by Isnanu Purwoko @ 03.24  |
|
|
|
|
| just want to share a view |
| About Me |
|

Name: Isnanu Purwoko
Home: Jakarta Barat, DKI Jakarta Raya, Indonesia
About Me: Saya adalah seorang mahasiswa yang mencoba untuk hidup apa adanya. Mencoba untuk menerima apa adanya. Dan mencoba untuk berusaha sekuat tenaga untuk meraih impian.
See my complete profile
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
|
| Shoutbox |
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. |
| Links |
- link 1
- link 2
- link 3
- link 4
|
| Powered by |
 |
|